0 Comments

KELAPA SAWIT MENJADI PENOPANG SEKTOR EKONOMI NEGARA

Minyak sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit,Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan dan memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam palmitat (44%). Minyak sawit juga memiliki lemak tak jenuh dalam bentuk asam oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%).

Meningkatnya kebutuhan minyak nabati domestik serta besarnya potensi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/cpo) telah memicu pesatnya pertumbuhan luas kebun sawit di tanah air. Pada 1980, luas lahan kebun sawit hanya 295 ribu hektare, tapi 30 tahun kemudian bertambah berlipat-lipat. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2019, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah menjadi 14,68 juta hektare, atau bertambah hampir 50 kali lipat. Bahkan bila mengacu pada data hasil rekonsiliasi perhitungan luas tutupan kelapa sawit nasional pada 2019, angkanya lebih besar lagi yakni 16,38 juta hektare.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kelapa sawit (minyak sawit dan inti sawit) 2018 adalah 48,68 juta ton, terdiri dari 40,57 juta ton minyak kelapa sawit (crude palm oil-CPO) dan 8,11 juta ton minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO). Jumlah produksi tersebut berasal dari perkebunan sawit rakyat sebesar 16,8 juta ton (35%), perkebunan besar negara 2,49 juta ton (5%), dan perkebunan besar swasta 29,39 juta ton (60%). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, 70 persen dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan 30 persen sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Nilai sumbangan devisa minyak kelapa sawit Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$20,54 miliar atau setara Rp289 triliun. Sampai hari ini, minyak kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia dan penyumbang devisa terbesar. Kontribusi devisa minyak sawit tak kalah dari batu bara (US$ 18,9 miliar atau setara Rp 265 triliun pada 2018– data BPS).  Tiga terbesar negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia adalah India (6,71 juta ton), Uni Eropa (4,78 juta ton), dan Tiongkok (4,41 juta ton).

SDM Kelapa Sawit

Selain jadi penyumbang devisa, industri kelapa sawit juga menyediakan lapangan pekerjaan yang besar. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada 2019, 59 persen perkebunan kelapa sawit dikelola perusahaan dan 41 persen dimiliki masyarakat. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola masyarakat telah menyediakan 2,3 juta lapangan pekerjaan. Tapi GAPKI punya ‘pekerjaan rumah’ besar yakni memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama kemampuan petani kelapa sawit, dalam mengelola kebun. Dalam hal produktivitas, petani sawit Indonesia memang masih kalah dari petani sawit Malaysia.

Salah satu pengetahuan petani yang perlu digenjot antara lain kemampuan memilih bibit unggul, bukan bibit jatuhan seperti selama ini, agar produktivitas pohon kelapa sawit meningkat. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Pusat Mukti Sardjono menyebut petani juga perlu memperbaiki tata kelola kebun (good agricultural practices) sebab sawit sangat repsonsif terhadap input, dalam hal ini pupuk yang tepat. Pendampingan dan peningkatan kesejahteraan petani sudah dilakukan GAPKI, termasuk membina petani plasma dan petani swadaya agar dapat meningkatkan kemampuan berkebun. Kebun-kebun plasma di bawah GAPKI juga dibina agar bisa segera mendapat sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai bukti bahwa petani juga bisa mendapatkan sertifikat sustainable.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *