SEKTOR PERTANIAN, PENYELAMAT KEHIDUPAN SELAMA PANDEMI COVID-19

0 Comments

Di tutur dari laman Wikipedia Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Hal tersebut karena sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari, sumber kehidupan manusia setiap harinya yang di hasilkan dari sektor pertanian antara lain adalah padi, kopi,dan teh. Maka dari itu di Indonesia, sektor pertanian adalah salah satu penyelamat kehidupan di masa pandemi ini, sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global,kelaparan dan lain – lain termasuk krisis yang di akibatkan wabah covid – 19 saat ini.

Untuk memajukan sektor pertanian yang dianggap sebagai sumber kehidupan, saat ini Kementerian Pertanian membuka layanan Kredit Usaha Rakyat atau KUR senilai sekitar Rp 50 triliun yang disebarkan pada sektor pertanian seluruh Indonesia untuk peningkatan produksi pertanian. Program tersebut dilengkapi juga dengan layanan pembagian bibit, benih,pupuk dan peningkatan akselerasi ekspor pertanian.

Direktur Pembiayaan Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian mengatakan, serapan Kredit Usaha Rakyat ( KUR) di sektor pertanian sangat rendah. Terkait hal tersebut, kementan akan mendampingi petani melalui berbagai pihak seperti konsultan pembiayaan dan agrobisnis, untuk mempercepat penyerapan KUR. Strategi lain untuk meningkatkan penyerapan KUR pertanian adalah mendorong pemanfaatan sektor hilir.

Tahun ini pemerintah menyediakan dana KUR pertanian Rp 50 triliun. Sampai saat ini, dana tersebut sudah terserap sebanyak Rp 6 triliun.

Jawa Barat adalah daerah yang serapan KUR nya cukup besar. Setiap provinsi di bagikan secara adil dengan mendapat Rp 1 triliun KUR pertanian. Tetapi, Jabar sudah menyerap sekitar Rp 500 miliar.

Di lansir dari laman http://sdgcenter.unpad.ac.id/ terdapat berbagai macam solusi , antara lain memasukkan sektor pendukung pertanian ke dalam perlakuan khusus. Khusus terkait sektor perkebunan, seperti kopi, diperparah oleh kondisi ekonomi global dan sifatnya yang tingkat esensialnya tidak setinggi bahan kebutuhan pokok. Sektor perkebunan juga mengalami kesulitan mencari pekerja untuk masa panen karena berkurangnya mobilitas sebagai dampak dari restriksi sosial.

Menunjukkan empati dan keberpihakan kepada petani. Saat ini kampanye penanganan Covid-19 masih tampak bias hanya di perkotaan. Bagaimanapun juga, petani adalah salah satu profesi yang sering mengalami ketidakpastian, baik dari alam, seperti cuaca, maupun dari realisasi pasar. Krisis pandemi Covid-19 menambah sumber ketidakpastian di kalangan pelaku perekonomian termasuk petani. Pemimpin di pusat dan daerah perlu berdialog dengan petani dan pelaku pertanian lebih intensif untuk menggali permasalahan dari mulai hal-hal besar yang sifatnya struktural juga hal-hal mendetail di lapangan. Pedagang-pedagang di pasar induk dan sentra-sentra produksi di pinggiran-pinggiran harus diobservasi dan diajak dialog untuk memecahkan masalah. Selain itu ketenangan dan kepastian di kalangan petani akan membantu ketahanan fisik dan mental petani menghadapi krisis pandemi Covid-19. Untuk ini, jika diperlukan untuk mengoptimalkan kelembagaan dan meningkatkan sense-of-sectoral crisis, perlu dibuat pokja (kelompok kerja) khusus penanganan sektor pertanian.

aktivitas sektor pertanian terutama sektor pertanian tanaman pangan harus diberi ruang untuk tetap aktif berproduksi, dengan batasan-batasan tertentu, di masa restriksi sosial (PSBB) dengan mempertahankan protokok-protokol perlindungan standar Covid-19. Ini karena sifat esensial dan urgensi yang dibahas di atas. Selain karena karakteristik proses produksi relatif rendah resiko penularannya dibandingkan sektor-sektor lain seperti manufaktur ataupun jasa-jasa. Sektor pertanian juga cakupannya luas sehingga diperlukan kajian lebih detail terkait sektor sub-pertanian apa yang perlu dilakukan relaksasi dan tidak dengan dasar kasus per kasus (case-by-case basis).Pelaksanaannya, walaupun demikian, harus dipantau secara ketat, karena dalam tahapannya ada beberapa proses produksi yang lebih beresiko. Petani apalagi petani penggarap adalah kelompok rentan dari segi ekonomi, resiko terpapar virus, dan mortalitas akibat terinfeksi virus Covid-19. Antisipasi dan persiapan harus dilakukan matang karena tingkat pengetahuan dan pendidikan masyarakat pedesaan yang kurang dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Kampanye publik harus lebih masif dan terstruktur, menggunakan metode dan saluran (channel) yang paling efektif untuk kelompok sasaran di atas, terutama untuk pembudayaan kebiasaan-kebiasaan yang disyaratkan pada protokol perlindungan standar Covid-19. Elemen masyarakat baik formal (aparat desa) maupun informal (pemimpin-pemimpin, orang berpengaruh, dan influencer informal di pedesaan) serta organisasi-organisasi kemasyarakatan harus dilibatkan dalam edukasi terkait protokol Covid-19. Selain itu, alat perlindungan kesehatan di pedesaan juga harus disediakan, terutama masker, juga fasilitas-fasilitas hand-sanitizer di tempat publik dan sentra-sentra produksi. Demikian juga pelarangan mudik harus dipertegas dibarengi dengan mendorong masyarakat pedesaan agar melarang anggota keluarganya untuk mudik. Protokol dan Standard Operating Procedure (SOP) perlindungan Covid-19 ini harus disiapkan terlebih dahulu dan disosialisasikan dengan baik ke masyarakat di pedesaan sebelum relaksasi aktivitas ekonomi di masa restriksi sosial (PSBB) dilakukan.

Kita juga harus optimis bahwa selama Indonesia mempertahankan produksi pertanian secara berkemajuan, maka goncangan fiskal dan krisis moneter tidak akan berdampak besar terhadap kelangsungan produksi pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *