MENYELAMI KEKAYAAN SEKTOR KARET INDONESIA

Pertanian menjadi sektor utama atau yang diandalkan bagi negara agraris sebab sebagian besar masyarakatnya pekerja sebagai petani. Sehingga keberadaan petani menjadi pekerjaan yang sangat penting bagi negara agraris untuk turut serta berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan jika negara agraris ialah negara yang tingkat perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian, sebab sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.  Keuntungan Menjadi Negara Agraris :

  • Pertanian menjadi salah satu sektor perekonomian yang memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan ekonomi negara.
  • Dapat dengan mudah memperoleh hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakatnya.
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat agar mencintai hasil produk pertanian sendiri.
  • Meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar tidak berada di garis bawah kemiskinan.
  • Terciptanya ketahanan pangan.
  • Membuka lapangan pekerjaan baru terutama di bidang pertanian dan perkebunan.
  • Terhindar dari krisis bahan pangan.

Hasil pertanian tidak hanya berupa bahan pangan saja seperti padi, Indonesia juga terkenal akan hasil kebunnya yang cukup terkenal di pasar Internasional. Beberapa hasil perkebunan yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia yaitu, kelapa sawit, karet, teh, tebu, kopi, dan tembakau. Untuk masalah kualitas tidak perlu diragukan lagi. Sebab Indonesia sendiri berada di iklim tropis yang sangat baik untuk melakukan kegiatan pertanian ditambah dengan ketersediaan unsur tanah yang baik tanaman.

Karet

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia Bersama Thailand dan Malaysia. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi karet nasional pada 2018 mencapai 3,63 juta ton (angka sementara) turun 1,36% dibandingkan tahun sebelumnya. Provinsi penghasil karet terbesar adalah Sumatera Selatan, yang menghasilkan 982 ribu ton atau sekitar 27% dari total produksi karet nasional. Di urutan kedua, Sumatera Utara dengan produksi 461 ribu ton atau sekitar 12,7% dari total dan ketiga, Riau dengan produksi 369 ribu ton atau sekitar 9,5% dari total.

Dari 10 provinsi penghasil karet terbesar, tujuh di antaranya dari Sumatera. Sebanyak 3 juta ton atau lebih dari 80 persen karet Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat. Sebanyak 247 ribu ton karet nasional dihasilkan dari perkebunan besar negara dan 378 ribu ton dari perkebunan swasta.

Berapa Luas Lahan Karet Indonesia? Luas Lahan Karet Menurut Status Pengusahaan (1970-2019)

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas lahan perkebunan karet nasional mencapai 3,67 juta ha. Luas tersebut meningkat 72% dibanding posisi 1970 yang baru mencapai 1,81 juta ha. Hingga akhir 2019, luas lahan perkebunan sawit diperkirakan mencapai 3,68 juta ha. Menurut status pengusahaannya, lahan sawit terluas merupakan perkebunan rakyat (PR), yakni mencapai 3,11 juta ha atau sekitar 84,8% dari total luas lahan sawit di Indonesia.

Adapun lahan sawit yang dimiliki perkebunan besar swasta (PBS) seluas 324 ribu ha atau sekitar 8,82% dari total dan lahan karet yang dimiliki perkebunan besar negara (PBN) mencapai 234 ribu ha atau 6,37% dari total. Sebagai informasi, karet merupakan salah satu komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor karet remah (crumb rubber) pada 2018 mencapai 2,74 juta ton dengan nilai US$ 3,83 miliar setara Rp 53,7 triliun. Nilai tersebut sekitar 2,36% dari total ekspor nonmigas Indonesia yang mencapai US$ 162,81 miliar. (sumber : databoks.katadata.co.id)