SEJARAH MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA

0 Comments

Minyak Sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit, umumnya dari spesies Elaeis guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa. Minyak sawit secara alami berwarna merah karena kandungan alfa dan beta-karotenoid yang tinggi. Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan.

Dikutip dari gapki.id, beginilah cerita sejarah minyak sawit indonesia.

Kelapa sarit memang bukan tanaman asli indonesia. Bermula dari 4 biji kelapa sawit, yang sebenarnya asdli dari afrika yang di bawa langsung oleh orang belanda ke indonesia dan di tanam si kebun raya bogorpada tahun 1848. Karena tanaman tersebut tumbuh subur dan setelah di coba di beberapa daerah di indonesia bisa tumbuh dengan baik, masa sejak 1910 kelapa sawit di budidayakan secara komersional dan meluas di Sumatera. Kelapa sawit hanya bisa hidup di daerah tropis sepanjang garis khatulistiwa yang memiliki curah hujan melimpah dan beberapa syarat agroklimat tertentu yang lainnya. Dan yang memenuhi syarat tersebut adalah indonesia dan malaysia, sebagian kecil afrika dan sebagian kecil di amerika latin dan amerika tengah. Hingga tahun 1980-an, luas pertanian kelapa sawit indonesia baru mencapai sekitar 200.000 ha dan kebanyakan adalah tanaman warisan pemerintah kolonial belanda. Berkat adanya program kredit serta mulai di perkenalkannya kebun sawit pola PIR-Trans pengembangan kelapa sawit sangat pesat dan hingga th 2009luas perkebunan kelapa sawit indonesia telah mencapai 7,2 juta ha .

Industri kelapa sawit memperkerjakan kurang lebih 2,8 juta orang yang menjadikan kebun kelapa sawit sebagai tempat menggantungkan hidup. Sementara 1,2 juta KK atau 3,6 juta orang adalah keluarga karyawan yang bekerja di perusahaan perkebunan. Setiap ha kebun sawit yang sudah beroperasi membutuhkan 0,2 hari kerja orang per hari. Jika setiap tahun di indonesia ada sebanyak 200.000 angkatan kerja baru yang masuk pasar tenaga kerja maka sekitar lebih dari 30% bisa di serap di sektor perkebunan kelapa sawit. Bagi negara, industri sawit merupakan salah satu andalan penerimaan negara , baik melalui berbagai bentuk pajak dan pendapatan ekspor. Tahun lalu, devisa dari ekspor produk minyak kelapa sawit turunannya bernilai USD 15 juta. Di saat beberapa industri kinerja ekspornya menurun tajam, sektor kelapa sawit cukup stabil dalam hal kinerja ekspornya. Bahkan, jika dilihat dari total ekspor non-migas indonesia tahun 2008,nilai ekspor produk sawit dan turunannya merupakan yang terbesar dan menduduki urutan pertama. Dengan demikian, peran produk sawit dan turunannya memiliki peran penting dalam struktur neraa perdagangan nasional.

Perkebunan kelapa sawit menjadi pioneer dalam pengembangan wilayah pedalaman, banyak kabupaten baru bahkan provinsi baru muncul karena daya dorong kemajuan akibat adanya perkebunan kelapa sawit. Sejarah mencatat,, bahwa kebanyakan kota di sumatera utara lahir dari kemajuan yang di akibatkan oleh perkebunan sawit. Perkebunan kelapa sawit banyak turut andil dalam membangun infrastruktur jalan dan jembatan yang bisa digunakan untuk kepentingan umum.

Perkebunan sawit juga membangun sekolah di sekitar lingkungan kebun. Juga karna perkebunan sawit, maka tumbuhlah pasar. Secara otomatis memicu berkembangnya ekonomi lokal,supplier lokal, kontraktir lokal. Dan siapa sangka bahwa setelah 20 tahun, wilayah areal perkebunan mamuju tersebut menjadi kabupaten baru (kabupaten mamuju utara) dan menjadi provinsi baru (provinsi sulawesi barat). Dari aspek kesehatan lingkungan, perkebunan kelapa sawit menjadi solusi penghutanan kembali / reforestasi area hutan yang gundul. Akan sulit faktanya, reboisasi hutan dalam jumlah besar dan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *