SEKTOR BERAS INDONESIA, JANTUNG PANGAN INDONESIA

Pada dasarnya beras adalah bagian bulir padi yang telah dipisahkan dari cangkangnya, dan di olah atau di masak menjadi nasi. Nasi adalah makanan pokok khususnya bagi  warga negara indonesia ini yang dimana mayoritas nya selalu menjadikan nasi sebagai pangan utama untuk di makan.  Pada sekor pertanian, beras sangat di jaga keaslian dan juga  jumlah produksinya.

Produksi Beras di Indonesia:

                        2008                2009    2010    2011    2012    2013    2014    2015    2016

Produksi Beras¹           60.3                 64.4     66.4     65.4     69.1     71.3     70.9     75.4     79.2

((Sumber: Food and Agriculture Organization of the United Nations and Kementrian Agrikultur))

Provinsi-provinsi Indonesia yang merupakan penghasil beras terbesar adalah:

1. Sumatra Selatan

2. Jawa Barat

3. Jawa Tengah

4. Jawa Timur

5. Sulawesi Selatan

Adapaun daerah daerah tertentu yang menghasilkan beras padi terbesar di indonesia, berikut ulasannya :

1. Kab. Indramayu (Jawa Barat) memiliki luas panen 215,731 hektar. Memperoleh produksi 1.376.429,68 ton gabah kering giling atau produksi berasnya sebesar 789,657,71 ton

2. Kab. Karawang(Jawa Barat) memiliki luas panen padi 185.807 hektar, memperoleh produksi padi 1.117.814 ton gabah kering giling, sehingga diperoleh produksi beras 641.290 ton

3. Kab. Subang (Jawa Barat) memiliki luas panen 156.298,50 hektar, memperoleh produksi padi sebebesar 942.932 ton gabah kering giling dan produksi beras sebesar 540.960 ton

4. Kab. Banyuasin (Sumatera Selatan) memiliki luas panen 208,598 hektar, memperoleh produksi padi sebesar 905.846 ton gabah kering giling dan produksi beras sebesar 519.684 ton.

5. Kab. Lamongan (Jawa Timur) memiliki luas panen padi sebesar 140.463, 58 hektar. Memperoleh produksi padi sebesar 839.724 ton gabah kering giling dan produksi berasnya sebesar 481.750 ton.

6. Kab. Ngawi (Jawa Timur) memiliki luas panen padi sebesar 122.500,97 hektar dengan diperoleh produksi padi 777.190 ton gabah kering giling dan produksi berasnya 445.874 ton

7. Kab. Bone (Sulawesi Selatan) memiliki luas panen 169.471,29 hektar, dan produksi padi nya sebesar 72.874 ton gabah kering giling dan memiliki produksi beras 443.398 ton

8. Kab. Grobogan (Jawa Tengah) memiliki luas panen padi 136.209,59 hektar dengan produksi padi memperoleh sebesar 772.521 ton gabah kering gilingan dan produksi berasnya sebesar 443.196 ton.

9. Kab. Sragen (Jawa Tengah) memiliki luas panen padi 111.569,05 hektar dengan produksi padi memperoleh 766.012 ton gabah kering giling dan produksi beras sebesar 439.461 ton

10. Kab. Cilacap (Jawa Tengah) memiliki luas panen 439.461,26 hektar dengan produksi padi sebesar 699.95 ton gabah kering giling dan produksi beras sebesar 401.570 ton

(Sumber mediaindonesia.com)

Pulau Jawa memang selalu menjadi pemasok padi terbesar di Indonesia. Di petani merupakan profesi paling banyak terdapat di pulau Jawa dan juga padi memerlukan suhu antara 20 °C hingga 35 °C dengan kebutuhan air yang besar jadi padi sangat cocok di tanam di dataran rendah.

Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhasil meningkatkan produksi padi sehingga keran impor mulai tahun 2016 sampai dengan saat ini ditutup mendapat pujian dari DPR. Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo melihat banyak terobosan yang dilakukan pemerintahan Jokowi- JK dalam mengangkat sektor pertanian selama dua tahun menjabat. Dengan terobosan-terobosan tersebut, di 2016, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor beras.Dengan kinerja Kementan itu, dia yakin produksi hasil hasil pertanian bakal terus meningkat. Namun, untuk mewujudkan keinginan Presiden Jokowi soal swasembada padi, jagung, dan kedelai di 2017 tidak boleh hanya diserahkan ke pundak Amran. Swasembada ketiga komoditas itu tergantung kinerja Menko Perekonomian Darmin Nasution meramu timnya di lintas kementerian untuk mendukung sektor pertanian.

“Keberhasilan Kementan untuk capai target yang ditetapkan pemerintah tidak bisa berdiri sendiri karena faktor-faktor pendukung lintas sektor. Pertanian itu tidak akan bisa berbicara produksi ketika airnya tidak ada. Sebagus apapun bibit dan distribusi alat pertanian, tidak ada gunanya kalau tidak ada air. Karena itu, Kementerian Pekerjaan Umum juga harus mendukung rencana Kementan. Demikian juga dengan Kementerian Perdagangan juga harus kendalikan impor. Sebab, impor bikin malas petani juga. Nah, ini tugas Menko Perekonomian untuk mengendalikannya,” ujar nya.

Sumber : pertanian.go.id