Month: July 2020

SEKTOR KOPI INDONESIA

Kopi merupakan produk perkebunan yang mempunyai peluang pasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagai negara produsen, Ekspor kopi merupakan sasaran utama dalam memasarkan produk-produk kopi yang dihasilkan Indonesia. Negara tujuan ekspor adalah negara- negara konsumer tradisional seperti USA, negara – negara Eropa dan Jepang. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, telah terjadi peningkatan kesejahteraan dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang akhirnya mendorong terhadap peningkatan konsumsi kopi. Secara umum ekspor kopi Indonesia dari tahun 2008 hingga tahun 2016 terus mengalami fluktuasi, baik volume maupun nilainya.

Semakin meningkatnya permintaan jumlah ekspor kopi Indonesia ke pasar luar negeri, menunjukkan keberhasilan produk kopi Indonesia dalam menembus pasar luar negeri dan hal ini merupakan kemajuan yang sangat baik bagi perkembangan pertumbuhan perekonomian di Indonesia serta mampu meningkatkan jumlah penghasilan bagi para petani kopi. Produk kopi Indonesia juga telah cukup terkenal di pasar kopi Amerika Serikat, berbagai jenis kopi baik green coffee (biji kopi mentah), roasted coffee (biji kopi yang telah disangrai), maupun kopi olahan dari Indonesia merupakan komodi ekspor yang diimpor oleh Amerika Serikat (AS). Namun ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat saat ini masih di dominasi oleh jenis kopi biji dari jenis arabika dan robusta di bandingkan dari jenis kopi specialty dan olahan.

Seperti yang di lansir dari indonesia.go.id, bahwa Indonesia berada di peringkat keempat negara penghasil kopi di dunia, setelah Kolombia, Vietnam, dan Brazil pada posisi puncaknya. Presiden Jokowi ingin posisi Indonesia dapat naik kelas ke posisi ketiga, kedua atau bahkan menjadi nomor satu. mengingat posisi Indonesia pernah menjadi negara eksportir ketiga terbesar di dunia. Saat ini Indonesia memiliki total luas lahan perkebunan berada pada kisaran maksimal 1,3 juta hektar. Struktur kepemilikan lahan terbesar dimiliki Perkebunan Rakyat (PR). Luasnya mencapai 1,181 juta hektar. Luas lahan milik BUMN atau Perkebunan Besar Negara (PBN) mencapai 26,78 ribu hektar. Sedangkan luas areal milik swasta atau Perkebunan Besar Swasta (PBS) kisarannya ialah 18,90 ribu hektar.

Areal perkebunan kopi tersebar di banyak daerah. Terkonsentrasi di Pulau Sumatra. Pada 2015, kopi yang dihasilkan sebanyak 460.000 ton. Provinsi penghasil kopi terbesar di pulau ini meliputi Sumatra Selatan (20% dari total produksi kopi di Indonesia), Lampung (16%), Sumatra Utara (9%), dan Bengkulu (8%). Daerah penghasil kopi penting lainnya ialah Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Kedua pulau ini menyumbangkan hampir seperempat dari total produksi. Sedangkan bicara permintaan kopi di tingkat global ke depan trennya diperkirakan masih akan naik. Data ICO (International Coffe Organization) menunjukkan, konsumsi kopi dunia pada periode 2016 – 2017 tumbuh 1,9% menjadi 157,38 juta karung dari periode sebelumnya.Per karung sendiri berisi 60 kg.

BPS sendiri mencatat bahwa, pada 2016 ekspor kopi ke Amerika Serikat slot online mencapai 67.324 ton atau 16,24%. Adapun nilainya mencapai US$269,94 juta atau sekitar Rp3,5 triliun. Peringkat kedua adalah Jerman. Jumlah ekspor sebesar 42,63 ribu ton atau 10,28% dengan nilai US$90,19 juta. Peringkat ketiga ialah Malaysia. Jumlah ekspor sebesar 40,39 ribu ton atau 9,74% dengan nilai US$71,43 juta. Peringkat keempat ialah Italia. Jumlah ekspor 35,82 ribu ton atau sekitar 8,64% dengan nilai US$66,4 juta. Peringkat kelima adalah Japan. Jumlah ekspor 35,35 ribu ton atau 8,53% dengan nilai US$86,51 juta. Sedangkan sisanya yaitu sejumlah 46,58% di ekspor ke banyak negara lain. Bicara total ekspor kopi secara keseluruhan mencapai 412 ribu ton dengan nilai US$ 1 miliar. Berkaitan dengan ragam komoditas agrikultur, kopi ialah penghasil devisa terbesar keempat setelah minyak sawit, karet dan kakao.

Jika di antara negara-negara pesaing utama eksportir kopi dunia diperbandingkan, maka potretnya ialah: pada 2015 Indonesia mengekspor sekitar 65% dari total produksinya. Jauh di bawah ekspor Vietnam (92%), Kolombia (88%), dan Brasil (73%). Ini mudah dipahami. Problem utamanya ialah bukanlah disebabkan terjadi penurunan produktivitas lahan-lahan kopi dan kualitas hasil biji kopi yang dihasilkan Indonesia. Jelas bukan karena itu. Tapi, penurunan ekspor ini disebabkan terjadinya peningkatan permintaan kopi di dalam negeri. Selain jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, peningkatan jumlah konsumsi domestik ini tak terlepas dari perkembangan ekonomi Indonesia.

Ekonomi Indonesia yang tumbuh jelas mendorong terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat. Muncul, tumbuh dan membesarnya kelas menengah urban ini jelas mendukung perubahan gaya hidup mereka. Ekonomi tak lagi semata berbasis pada soal pemenuhan kebutuhan, melainkan juga soal gaya hidup. Munculnya tren konsumsi kopi ialah produk dari ekonomi berbasis gaya hidup khususnya segmen kelas menengah perkotaan. Selama lima tahun terakhir, perbandingannya antara jumlah ekspor dan konsumsi domestik ialah, jika Indonesia mengekspor rata-rata 2 kg kopi maka untuk setiap 1 kg kopi dikonsumsi sendiri. Artinya tanpa adanya kenaikan produktivitas yang signifikan, maka dalam jangka panjang pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan konsumsi kopi jelas akan membatasi potensi ekspor kopi itu sendiri. Artinya, jika tujuan Indonesia ialah meningkatkan kuantitas ekspor menjadi negara eksportir ketiga menggeser posisi Kolombia, maka Indonesia harus mendorong kebijakan produktivitas secara besar-besaran. Selain melalui mekanisme standar budidaya tanaman kopi secara berkualitas, misalnya implementasi konsepsi “hijau”, juga peremajaan pohon-pohon kopi, dan, utamanya ialah melalui kebijakan ekstensifikasi lahan perkebunan secara cukup signifikan. Kebijakan ini tentu mahal dan tidak semudah kebijakan untuk mendorong strategi kreatif secara optimum. Menggencarkan promosi dan branding atas produk kopi-kopi unggulan, serta mempopulerkan beberapa brand merek produk kopi lokal yang terbukti memiliki kualitas mutu yang baik dan citarasa yang telah teruji oleh pasar, atau mendorong riset untuk memunculkan berbagai produk turunan lainnya di sektor hilir dari industri kopi.

Harapannya ialah, ekspor kopi ke depan tidak lagi didominasi oleh bentuk ekspor biji kopi (green bean). Tapi, lebih dari itu, ekspor kopi telah mengambil bentuk produk hilir kopi dan berbagai produk turunannya, seperti ekspor kopi seduh dan kopi bubuk merek lokal, atau bahkan memproduksi parfum atau cream kulit beraroma kopi misalnya, dan lain-lain. Kebijakan ini bukan hanya bakal memperpanjang mata rantai industri dan memperbesar kapasitas serapan tenaga kerja di sektor tersebut, melainkan lebih jauh juga memberi nilai tambah signifikan atas komoditas kopi itu sendiri. Penting diingat, Indonesia memiliki aneka kopi unggulan yang sohor di dunia. Jenis kopi unggulan ini sering disebut ‘kopi spesialti’. ‘Specialty coffee’ istilah ini berasal dari Amerika Serikat. Awalnya istilah ini digunakan untuk membedakan produk olahan kopi yang dijual di kedai-kedai kopi “bergengsi”, dengan maksud membedakan dari produk-produk kopi umum yang dijual di supermarket atau toko-toko pengecer lainnya. Tapi, kini kopi spesialti bermakna kopi yang memiliki kualitas tinggi; juga bermakna kopi dengan latar belakang “tidak umum” atau memiliki “riwayat” khusus, sekaligus memiliki cita rasa yang spesial dan unik. Indonesia memiliki banyak jenis kopi spesialti ini. Sebutlah misalnya Lintong Coffee, Mandheling Coffee, Gayo Mountain Coffee, Toraja Coffee, Kalosi Coffee, Kintamani Bali Coffee, Flores-bajawa Coffee, Baliem Highland Coffee (Papua Wamena), Java Estate Coffee, Java Preanger Coffee, Java ‘Kopi Luwak‘ Arabica, dan Luwak Coffee. Untuk jenis kopi yang terakhir ini, saking sohornya sebagai produk kopi spesialti, ternyata berhasil mencatatkan diri sebagai kopi termahal di dunia yang memiliki harga paling fantatis.

SEKTOR PERKEBUNAN KARET INDONESIA

Bidang pertanian di Indonesia masih merupakan salah satu indikator kekuatan nasional . Sektor pertanian yang didukung oleh sektor industri merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia . Di bidang pertanian , sub sektor perkebunan memiliki peranan penting . Salah satu komoditas perkebunan yang cukup strategis adalah karet alam . Saat ini Indonesi a merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand . Karet alam merupakan komoditas strategis karena arealnya sangat luas (3, 1 juta ha) , sebagai sumber pendapatan dan lapangan kerja yang memberikan jaminan bagi lebih dari 10 juta penduduk Indonesia , dan merupakan salah satu sumber devisa terbesar ,serta sebagai pelestari lingkungan . Karet alam Indonesia didominasi oleh karet rakyat , dimana luas areal karet rakyat tersebut meliputi 84 % dari total areal dan produksinya. mencapai 72 % dari total produksi . Dari total areal karet rakyat tersebut ,baru 15 % yang ditangani oleh pemerintah melalui proyek , sedangkan sebagian besar adalah areal karet rakyat tradisional yang umumnya berupa hutan karet dengan produktivitas dan mutu bokar yang rendah.

Dilansir dari Indonesia Investment, bahwa Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang konstan (26-32 derajat Celsius) dan lingkungan yang lembab supaya dapat berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara tempat sebagian besar karet dunia diproduksi. Sekitar 70 persen dari produksi karet global berasal dari Thailand, Indonesia dan Malaysia. Memerlukan waktu tujuh tahun untuk sebatang pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini, penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.

Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet negara ini – kira-kira 80 persen – diproduksi oleh para petani kecil. Oleh karena itu, perkebunan Pemerintah dan swasta memiliki peran yang kecil dalam industri karet domestik.

Kebanyakan produksi karet Indonesia berasal dari provinsi-provinsi berikut:

•             Sumatra Selatan

•             Sumatra Utara

•             Riau

•             Jambi

•             Kalimantan Barat

Total luas perkebunan karet Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. Di tahun 2016, perkebunan karet di negara ini mencapai luas total 3,64 juta hektar. Karena prospek industri karet positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan komoditi seperti kakao, kopi dan teh, menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet. Selama beberapa tahun ini jumlah perkebunan karet milik petani kecil meningkat, sementara perkebunan Pemerintah sedikit berkurang, kemungkinan karena perpindahan fokus mereka ke kebun kelapa sawit yang luas. Luasnya kebun karet pemain swasta besar berkurang di antara tahun 2010 dan 2012, namun naik cukup cepat mulai dari tahun 2013. Sekitar 85 persen dari produksi karet Indonesia diekspor ke luar negeri. Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia lain, diikuti oleh Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (yang berkonsumsi hampir 22 percent dari total ekspor Indonesia), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil.

Konsumsi karet domestik di Indonesia kebanyakan diserap oleh industri-industri manufaktur Indonesia (terutama sektor otomotif).

Harga Karet Alam – Grafik I (data dari Bloomberg):

Grafik pertama di bawah ini menunjukkan penurunan tajam harga karet alam mulai dari awal 2011 karena melimpahnya pasokan karet, pertumbuhan ekonomi yang lamban dan persaingan yang ketat dari karet sintetis.

Grafik kedua menunjukkan pemulihan tajam harga karet alam pada kuartal terakhir 2017 dan awal 2018. Alasan di balik kenaikan harga ini adalah gangguan pasokan di Thailand. Banjir besar-besaran dan tersebar luas di bagian selatan Thailand, di mana sebagian besar penanaman karet nasional terjadi, memiliki dampak besar pada pasokan karet alam (baik dalam hal produksi dan distribusi). Kekeringan yang parah juga disebut sebagai alasan produksi karet yang lemah di Thailand pada waktu itu.

PERUSAHAAN YANG BEKERJA PADA SEKTOR MINYAK SAWIT INDONESIA

SEKTOR MINYAK SAWIT INDONESIA – Minyak sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit,Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi tentunya ini berbeda dengan lemak yang ada di badan pemain judi poker online terpercaya yang menumpuk di dalam badan para pemain judi poker online uang asli yang malas berolahraga.

Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan dan memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam palmitat (44%). Minyak sawit juga Slot Maxwin memiliki lemak tak jenuh dalam bentuk asam oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%). Meningkatnya kebutuhan minyak nabati domestik serta besarnya potensi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/cpo) telah memicu pesatnya pertumbuhan luas kebun sawit di tanah air.

SEKTOR MINYAK SAWIT INDONESIA

Menurut data Indonesia Investment, pada saat permintaan global kuat, bisnis minyak sawit di Indonesia menguntungkan karena alasan-alasan berikut:

  • Margin laba yang besar, sementara komoditi ini mudah diproduksi
  • Permintaan internasional yang besar dan terus berkembang seiring kenaikan jumlah penduduk global
  • Biaya produksi minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia adalah yang paling murah di dunia
  • Tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan produk minyak nabati
  • Penggunaan biofuel diduga akan meningkat secara signifikan, sementara penggunaan besin diperkirakan akan berkurang

Hanya beberapa industri di Indonesia yang menunjukkan perkembangan secepat industri minyak kelapa sawit selama 20 tahun terakhir. Pertumbuhan ini tampak dalam jumlah produksi dan ekspor dari Indonesia dan juga dari pertumbuhan luas area perkebunan sawit. Didorong oleh permintaan global yang terus meningkat dan keuntungan yang juga naik, budidaya kelapa sawit telah ditingkatkan secara signifikan baik oleh petani kecil maupun para pengusaha besar di Indonesia (dengan imbas negatif pada lingkungan hidup dan penurunan jumlah produksi hasil-hasil pertanian lain karena banyak petani beralih ke budidaya kelapa sawit).

Mayoritas hasil produksi minyak kelapa sawit Indonesia diekspor. Negara-negara tujuan ekspor yang paling penting adalah RRT, India, Pakistan, Malaysia, dan Belanda. Walaupun angkanya sangat tidak signifikan, Indonesia juga mengimpor minyak sawit, terutama dari India.

Memang mayoritas dari minyak sawit yang diproduksi di Indonesia diekspor (lihat tabel di bawah). Namun, karena populasi Indonesia terus bertumbuh (disertai kelas menengah yang berkembang pesat) dan dukungan pemerintah untuk program biodiesel, permintaan minyak sawit domestik di Indonesia juga terus berkembang. Meningkatnya permintaan minyak sawit dalam negeri sebenarnya bisa berarti bahwa pengiriman minyak sawit mentah dari Indonesia akan mandek di tahun-tahun mendatang jika pemerintah Indonesia tetap berkomitmen terhadap moratorium konversi lahan gambut

Artikel kali ini akan membahas tentang perusahaan yang berjalan pada sektor kelapa sawit, diantaranya adalah :

  • Astra Agro Lestari, Tbk. (AALI)

Aset : Rp 27,16 triliun

Didirikan: 1981

Alamat :Kawasan Industri Pulogadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

  • Austindo Nusantara Jaya, Tbk. (ANJT)

Aset : Rp 8,59 triliun

Didirikan: 1993

Alamat : Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

  • Eagle High Plantations, Tbk. (BWPT)

Aset : Rp 16,45 triliun

Alamat : Kawasan Mega Kuningan, Kuningan Tim., Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

  • Golden Plantation, Tbk. (GOLL)

Aset : Rp 2,59 triliun

Alamat : Gedung Plaza Mutiara, Lantai 16,

Jalan DR. Ide Agung Gede Agung, Kav.E.1.2 No 1 & 2 (Jalan Lingkar Mega Kuningan)Jakarta Selatan, DKI Jakarta

  • Bakrie Sumatera Plantations, Tbk. (UNSP)

Aset : Rp 13,18 miliar

Didirikan: 1911

Alamat : Komplek Rasuna Epicentrum Bakrie Tower Lantai 18 – 19, Jl. HR. Rasuna Said, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

KELAPA SAWIT MENJADI PENOPANG SEKTOR EKONOMI NEGARA

Minyak sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit,Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan dan memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam palmitat (44%). Minyak sawit juga memiliki lemak tak jenuh dalam bentuk asam oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%).

Meningkatnya kebutuhan minyak nabati domestik serta besarnya potensi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/cpo) telah memicu pesatnya pertumbuhan luas kebun sawit di tanah air. Ketika mencapai potensi maksimalnya, maka sawit akan berdampak positif pada peningkatan pendapatan masyarakat daerah sehingga mereka dapat mengadakan rekreasi untuk menghibur diri salah satunya melalui sarana berupa agen judi gaple online uang asli terpercaya Indonesia dan memajukan perputaran roda perekonomian di area kebun sawit tersebut. Pada 1980, luas lahan kebun sawit hanya 295 ribu hektare, tapi 30 tahun kemudian bertambah berlipat-lipat. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2019, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah menjadi 14,68 juta hektare, atau bertambah hampir 50 kali lipat. Bahkan bila mengacu pada data hasil rekonsiliasi perhitungan luas tutupan kelapa sawit nasional pada 2019, angkanya lebih besar lagi yakni 16,38 juta hektare.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kelapa sawit (minyak sawit dan inti sawit) 2018 adalah 48,68 juta ton, terdiri dari 40,57 juta ton minyak kelapa sawit (crude palm oil-CPO) dan 8,11 juta ton minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO). Jumlah produksi tersebut berasal dari perkebunan sawit rakyat sebesar 16,8 juta ton (35%), perkebunan besar negara 2,49 juta ton (5%), dan perkebunan besar swasta 29,39 juta ton (60%). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, 70 persen dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan 30 persen sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Nilai sumbangan devisa minyak kelapa sawit Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$20,54 miliar atau setara Rp289 triliun. Sampai hari ini, minyak kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia dan penyumbang devisa terbesar. Kontribusi devisa minyak sawit tak kalah dari batu bara (US$ 18,9 miliar atau setara Rp 265 triliun pada 2018– data BPS).  Tiga terbesar negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia adalah India (6,71 juta ton), Uni Eropa (4,78 juta ton), dan Tiongkok (4,41 juta ton).

SDM Kelapa Sawit

Selain jadi penyumbang devisa, industri kelapa sawit juga menyediakan lapangan pekerjaan yang besar. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada 2019, 59 persen perkebunan kelapa sawit dikelola perusahaan dan 41 persen dimiliki masyarakat. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola masyarakat telah menyediakan 2,3 juta lapangan pekerjaan. Tapi GAPKI punya ‘pekerjaan rumah’ besar yakni memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama kemampuan petani kelapa sawit, dalam mengelola kebun. Dalam hal produktivitas, petani sawit Indonesia memang masih kalah dari petani sawit Malaysia.

Salah satu pengetahuan petani yang perlu digenjot antara lain kemampuan memilih bibit unggul, bukan bibit jatuhan seperti selama ini, agar produktivitas pohon kelapa sawit meningkat. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Pusat Mukti Sardjono menyebut petani juga perlu memperbaiki tata kelola kebun (good agricultural practices) sebab sawit sangat repsonsif terhadap input, dalam hal ini pupuk yang tepat. Pendampingan dan peningkatan kesejahteraan petani sudah dilakukan GAPKI, termasuk membina petani plasma dan petani swadaya agar dapat meningkatkan kemampuan berkebun. Kebun-kebun plasma di bawah GAPKI juga dibina agar bisa segera mendapat sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai bukti bahwa petani juga bisa mendapatkan sertifikat sustainable.

SEJARAH MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA

Minyak Sawit adalah minyak nabati yang didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit, umumnya dari spesies Elaeis guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa. Minyak sawit secara alami berwarna merah karena kandungan alfa dan beta-karotenoid yang tinggi.

Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi hal ini sangat sama seperti penyakit jantung yang dimiliki oleh pemain judi bandar qq online yang mengalami kekalahan yang sangat besar akan mendapati penyakit darah tinggi dan harus menggunakan bahan obat herbal seperti minyak kelapa. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan.

Dikutip dari gapki.id, beginilah cerita sejarah minyak sawit indonesia.

Kelapa sarit memang bukan tanaman asli indonesia. Bermula dari 4 biji kelapa sawit, yang sebenarnya asdli dari afrika yang di bawa langsung oleh orang belanda ke indonesia dan di tanam si kebun raya bogorpada tahun 1848. Karena tanaman tersebut tumbuh subur dan setelah di coba di beberapa daerah di indonesia bisa tumbuh dengan baik, masa sejak 1910 kelapa sawit di budidayakan secara komersional dan meluas di Sumatera. Kelapa sawit hanya bisa hidup di daerah tropis sepanjang garis khatulistiwa yang memiliki curah hujan melimpah dan beberapa syarat agroklimat tertentu yang lainnya. Dan yang memenuhi syarat tersebut adalah indonesia dan malaysia, sebagian kecil afrika dan sebagian kecil di amerika latin dan amerika tengah. Hingga tahun 1980-an, luas pertanian kelapa sawit indonesia baru mencapai sekitar 200.000 ha dan kebanyakan adalah tanaman warisan pemerintah kolonial belanda. Berkat adanya program kredit serta mulai di perkenalkannya kebun sawit pola PIR-Trans pengembangan kelapa sawit sangat pesat dan hingga th 2009luas perkebunan kelapa sawit indonesia telah mencapai 7,2 juta ha .

Industri kelapa sawit memperkerjakan kurang lebih 2,8 juta orang yang menjadikan kebun kelapa sawit sebagai tempat menggantungkan hidup. Sementara 1,2 juta KK atau 3,6 juta orang adalah keluarga karyawan yang bekerja di perusahaan perkebunan. Setiap ha kebun sawit yang sudah beroperasi membutuhkan 0,2 hari kerja orang per hari. Jika setiap tahun di indonesia ada sebanyak 200.000 angkatan kerja baru yang masuk pasar tenaga kerja maka sekitar lebih dari 30% bisa di serap di sektor perkebunan kelapa sawit. Bagi negara, industri sawit merupakan salah satu andalan penerimaan negara , baik melalui berbagai bentuk pajak dan pendapatan ekspor. Tahun lalu, devisa dari ekspor produk minyak kelapa sawit turunannya bernilai USD 15 juta. Di saat beberapa industri kinerja ekspornya menurun tajam, sektor kelapa sawit cukup stabil dalam hal kinerja ekspornya. Bahkan, jika dilihat dari total ekspor non-migas indonesia tahun 2008,nilai ekspor produk sawit dan turunannya merupakan yang terbesar dan menduduki urutan pertama. Dengan demikian, peran produk sawit dan turunannya memiliki peran penting dalam struktur neraa perdagangan nasional.

Perkebunan kelapa sawit menjadi pioneer dalam pengembangan wilayah pedalaman, banyak kabupaten baru bahkan provinsi baru muncul karena daya dorong kemajuan akibat adanya perkebunan kelapa sawit. Sejarah mencatat,, bahwa kebanyakan kota di sumatera utara lahir dari kemajuan yang di akibatkan oleh perkebunan sawit. Perkebunan kelapa sawit banyak turut andil dalam membangun infrastruktur jalan dan jembatan yang bisa digunakan untuk kepentingan umum.

Perkebunan sawit juga membangun sekolah di sekitar lingkungan kebun. Juga karna perkebunan sawit, maka tumbuhlah pasar. Secara otomatis memicu berkembangnya ekonomi lokal,supplier lokal, kontraktir lokal. Dan siapa sangka bahwa setelah 20 tahun, wilayah areal perkebunan mamuju tersebut menjadi kabupaten baru (kabupaten mamuju utara) dan menjadi provinsi baru (provinsi sulawesi barat). Dari aspek kesehatan lingkungan, perkebunan kelapa sawit menjadi solusi penghutanan kembali / reforestasi area hutan yang gundul. Akan sulit faktanya, reboisasi hutan dalam jumlah besar dan berhasil.

MENYELAMI KEKAYAAN SEKTOR KARET INDONESIA

Pertanian menjadi sektor utama atau yang diandalkan bagi negara agraris sebab sebagian besar masyarakatnya pekerja sebagai petani. Sehingga keberadaan petani menjadi pekerjaan yang sangat penting bagi negara agraris untuk turut serta berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan jika negara agraris ialah negara yang tingkat perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian, sebab sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.  Keuntungan Menjadi Negara Agraris :

  • Pertanian menjadi salah satu sektor perekonomian yang memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan ekonomi negara.
  • Dapat dengan mudah memperoleh hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakatnya.
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat agar mencintai hasil produk pertanian sendiri.
  • Meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar tidak berada di garis bawah kemiskinan.
  • Terciptanya ketahanan pangan.
  • Membuka lapangan pekerjaan baru terutama di bidang pertanian dan perkebunan.
  • Terhindar dari krisis bahan pangan.

Hasil pertanian tidak hanya berupa bahan pangan saja seperti padi, Indonesia juga terkenal akan hasil kebunnya yang cukup terkenal di pasar Internasional. Beberapa hasil perkebunan yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia yaitu, kelapa sawit, karet, teh, tebu, kopi, dan tembakau. Untuk masalah kualitas tidak perlu diragukan lagi. Sebab Indonesia sendiri berada di iklim tropis yang sangat baik untuk melakukan kegiatan pertanian ditambah dengan ketersediaan unsur tanah yang baik tanaman.

Karet

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia Bersama Thailand dan Malaysia. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi karet nasional pada 2018 mencapai 3,63 juta ton (angka sementara) turun 1,36% dibandingkan tahun sebelumnya. Provinsi penghasil karet terbesar adalah Sumatera Selatan, yang menghasilkan 982 ribu ton atau sekitar 27% dari total produksi karet nasional. Di urutan kedua, Sumatera Utara dengan produksi 461 ribu ton atau sekitar 12,7% dari total dan ketiga, Riau dengan produksi 369 ribu ton atau sekitar 9,5% dari total.

Dari 10 provinsi penghasil karet terbesar, tujuh di antaranya dari Sumatera. Sebanyak 3 juta ton atau lebih dari 80 persen karet Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat. Sebanyak 247 ribu ton karet nasional dihasilkan dari perkebunan besar negara dan 378 ribu ton dari perkebunan swasta.

Berapa Luas Lahan Karet Indonesia? Luas Lahan Karet Menurut Status Pengusahaan (1970-2019)

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas lahan perkebunan karet nasional mencapai 3,67 juta ha. Luas tersebut meningkat 72% dibanding posisi 1970 yang baru mencapai 1,81 juta ha. Hingga akhir 2019, luas lahan perkebunan sawit diperkirakan mencapai 3,68 juta ha. Menurut status pengusahaannya, lahan sawit terluas merupakan perkebunan rakyat (PR), yakni mencapai 3,11 juta ha atau sekitar 84,8% dari total luas lahan sawit di Indonesia.

Adapun lahan sawit yang dimiliki perkebunan besar swasta (PBS) seluas 324 ribu ha atau sekitar 8,82% dari total dan lahan karet yang dimiliki perkebunan besar negara (PBN) mencapai 234 ribu ha atau 6,37% dari total. Sebagai informasi, karet merupakan salah satu komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor karet remah (crumb rubber) pada 2018 mencapai 2,74 juta ton dengan nilai US$ 3,83 miliar setara Rp 53,7 triliun. Nilai tersebut sekitar 2,36% dari total ekspor nonmigas Indonesia yang mencapai US$ 162,81 miliar. (sumber : databoks.katadata.co.id)

PERKEMBANGAN PERTANIAN INDONESIA

PERKEMBANGAN PERTANIAN INDONESIA – Pertanian di Indonesia merupakan salah satu sektor kunci perekonomian Indonesia. Meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto nasional telah menurun secara signifikan dalam setengah abad terakhir yang namun memang hal tersebut sama seperti permainan POKER ONLINE yang memang ketika kalian ingin daftar poker online uang asli dengan banyaknya orang bermain di situs poker online uang asli, saat ini sektor pertanian masih memberikan pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia.

PERKEMBANGAN PERTANIAN INDONESIA

Saat ini sekitar 30 persen lahan Indonesia digunakan untuk pertanian.Umumnya, sektor pertanian di Indonesia terdiri dari dua jenis berdasarkan skala per 1 meter perkebunan besar baik milik negara maupun perusahaan swasta .Produksi petani kecil, kebanyakan rumah tangga yang melakukan pertanian tradisional.

Perkebunan besar cenderung fokus pada komoditas ekspor kekayaan sektor karet seperti minyak sawit dan karet, sementara petani skala kecil fokus pada komoditas hortikultura untuk memasok konsumsi makanan masyarakat lokal dan regional, seperti beras, kedelai, jagung, buah-buahan dan sayuran.

Negara ini memiliki tanah subur yang melimpah. Indonesia adalah penghasil utama dari berbagai produk pertanian tropis. Komoditas pertanian penting di Indonesia meliputi minyak sawit, karet alam, kakao, kopi, teh, singkong, beras dan rempah-rempah tropis. Saat ini Indonesia adalah penghasil terbesar di dunia dari minyak sawit, cengkih, dan kayu manis, penghasil terbesar kedua dari pala, karet alam, singkong, vanili, dan minyak kelapa, penghasil terbesar ketiga dari beras dan kakao, penghasil kopi keempat terbesar,produsen tembakau terbesar kelima,dan produsen teh terbesar keenam.

Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk membina para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar menjadi pondasi yang kuat dalam mendukung ekonomi Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menggelar pelatihan manajemen agrobisnis untuk pelaku usaha kecil dan menengah bekerjasama dengan Asian Productivity Organization (APO) dan Cornel University.

“Pertanian khususnya ketahanan pangan masih bertumpu pada level menengah kecil, kalau sektor ini tidak dijadikan ruang ekonomi, maka ini akan dibawa kemana?. Kita harus bina ruang ini sehingga menjadi kekuatan ekonomi di Indonesia, “ Ujar Hari Priyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian saat menghadiri Asian Productivity Organization (APO) Advanced Agribusiness Management Course yang diselenggarakan pada tanggal 5-9 Maret 2018 di Bali Dynasty Resort, Bali.

“Kita berharap usaha menegah kecil di Indonesia bisa menjadi pondasi yang kuat dibidang pertanian, jika dibandingkan negara lain pertumbuhan ekonomi rata-rata dikuasai oleh industri besar, sehingga rakyat kecil tidak punya ruang ekonomi rakyat,“ kata Hari.

Lebih lanjut Hari mengatakan bahwa masalah pangan merupakan sektor yang selalu dibutuhkan manusia terlebih konsumen di Indonesia sangat besar. Untuk itu, Hari berharap petani dan UKM pemula agar terus berinovasi bukan hanya menguasai pasar di Indonesia saja, melainkan ekspor untuk komoditas-komoditas tertentu .

“Saya berharap pola yang sudah di kembangkan APO tidak berhenti begitu saja. Tetapi juga dapat dikembangkan lebih baik lagi di Indonesia, “ ujar Hari.

Meskipun perkembangan pertanian di Indonesia memiliki prospek dan berjalan sangat baik hingga saat ini, bukan berarti tidak ada tantangan. Justru meningkatnya potensi pertanian tersebut, pemeritah maupun pelaku bidang pertanian harus lebih siap menghadapi tantangan di era dengan kemajuan teknologi informasi. Adapun beberapa tantangan itu di antaranya adalah pembangunan sumber daya manusia di sektor pertanian.

Sejauh ini, sudah sekitar 400 UKM telah kita libatkan dalam pelatihan ini dan cukup berhasil. Hari berharap peserta UKM yang telah berhasil dapat mengimplementasikan pengalaman dan menyebarkan ilmu khususnya dari negara lain untuk mengembangkan usaha pertanian di Indonesia.

Untuk hal ini, seperti disebutkan dalam situs resmi Kementerian Pertanian pemerintah menggelar pelatihan manajemen agrobisnis dengan pelaku UKM yang bekerjasama dengan Asian Productivity Organization (APO) dan Cornel University.

SEKTOR PERTANIAN, PENYELAMAT KEHIDUPAN SELAMA PANDEMI COVID-19

SEKTOR PERTANIAN – Di tutur dari laman Wikipedia Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia para pemain judi daftar bandarqq online yang gemar bermain judi bandarqq online uang asli dan untuk agen bandarq terpercaya di indonesia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Hal tersebut karena sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari, sumber kehidupan manusia setiap harinya yang di hasilkan dari sektor pertanian antara lain adalah padi, kopi,dan teh. Maka dari itu di Indonesia, sektor pertanian adalah salah satu penyelamat kehidupan di masa pandemi ini, sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global,kelaparan dan lain – lain termasuk krisis yang di akibatkan wabah covid – 19 saat ini.

sektor pertanian

Untuk memajukan sektor pertanian yang dianggap Situs Slot Gacor sebagai sumber kehidupan, saat ini Kementerian Pertanian membuka layanan Kredit Usaha Rakyat atau KUR senilai sekitar Rp 50 triliun yang disebarkan pada sektor pertanian seluruh Indonesia untuk peningkatan produksi pertanian. Program tersebut dilengkapi juga dengan layanan pembagian bibit, benih,pupuk dan peningkatan akselerasi ekspor pertanian.

Direktur Pembiayaan Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian mengatakan, serapan Kredit Usaha Rakyat ( KUR) di sektor pertanian sangat rendah. Terkait hal tersebut, kementan akan mendampingi petani melalui berbagai pihak seperti konsultan pembiayaan dan agrobisnis, untuk mempercepat penyerapan KUR. Strategi lain untuk meningkatkan penyerapan KUR pertanian adalah mendorong pemanfaatan sektor hilir.

Tahun ini pemerintah menyediakan dana KUR pertanian Rp 50 triliun. Sampai saat ini, dana tersebut sudah terserap sebanyak Rp 6 triliun.

Jawa Barat adalah daerah yang serapan KUR nya cukup besar. Setiap provinsi di bagikan secara adil dengan mendapat Rp 1 triliun KUR pertanian. Tetapi, Jabar sudah menyerap sekitar Rp 500 miliar.

Di lansir dari laman http://sdgcenter.unpad.ac.id/ terdapat berbagai macam solusi , antara lain memasukkan sektor pendukung pertanian ke dalam perlakuan khusus. Khusus terkait sektor perkebunan, seperti kopi, diperparah oleh kondisi ekonomi global dan sifatnya yang tingkat esensialnya tidak setinggi bahan kebutuhan pokok. Sektor perkebunan juga mengalami kesulitan mencari pekerja untuk masa panen karena berkurangnya mobilitas sebagai dampak dari restriksi sosial.

Menunjukkan empati dan keberpihakan kepada petani. Saat ini kampanye penanganan Covid-19 masih tampak bias hanya di perkotaan. Bagaimanapun juga, petani adalah salah satu profesi yang sering mengalami ketidakpastian, baik dari alam, seperti cuaca, maupun dari realisasi pasar. Krisis pandemi Covid-19 menambah sumber ketidakpastian di kalangan pelaku perekonomian termasuk petani. Pemimpin di pusat dan daerah perlu berdialog dengan petani dan pelaku pertanian lebih intensif untuk menggali permasalahan dari mulai hal-hal besar yang sifatnya struktural juga hal-hal mendetail di lapangan. Pedagang-pedagang di pasar induk dan sentra-sentra produksi di pinggiran-pinggiran harus diobservasi dan diajak dialog untuk memecahkan masalah. Selain itu ketenangan dan kepastian di kalangan petani akan membantu ketahanan fisik dan mental petani menghadapi krisis pandemi Covid-19. Untuk ini, jika diperlukan untuk mengoptimalkan kelembagaan dan meningkatkan sense-of-sectoral crisis, perlu dibuat pokja (kelompok kerja) khusus penanganan sektor pertanian.

aktivitas sektor pertanian terutama perkembangan sektor pertanian Indonesia tanaman pangan harus diberi ruang untuk tetap aktif berproduksi, dengan batasan-batasan tertentu, di masa restriksi sosial (PSBB) dengan mempertahankan protokok-protokol perlindungan standar Covid-19. Ini karena sifat esensial dan urgensi yang dibahas di atas. Selain karena karakteristik proses produksi relatif rendah resiko penularannya dibandingkan sektor-sektor lain seperti manufaktur ataupun jasa-jasa. Sektor pertanian juga cakupannya luas sehingga diperlukan kajian lebih detail terkait sektor sub-pertanian apa yang perlu dilakukan relaksasi dan tidak dengan dasar kasus per kasus (case-by-case basis).Pelaksanaannya, walaupun demikian, harus dipantau secara ketat, karena dalam tahapannya ada beberapa proses produksi yang lebih beresiko. Petani apalagi petani penggarap adalah kelompok rentan dari segi ekonomi, resiko terpapar virus, dan mortalitas akibat terinfeksi virus Covid-19. Antisipasi dan persiapan harus dilakukan matang karena tingkat pengetahuan dan pendidikan masyarakat pedesaan yang kurang dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Kampanye publik harus lebih masif dan terstruktur, menggunakan metode dan saluran (channel) yang paling efektif untuk kelompok sasaran di atas, terutama untuk pembudayaan kebiasaan-kebiasaan yang disyaratkan pada protokol perlindungan standar Covid-19. Elemen masyarakat baik formal (aparat desa) maupun informal (pemimpin-pemimpin, orang berpengaruh, dan influencer informal di pedesaan) serta organisasi-organisasi kemasyarakatan harus dilibatkan dalam edukasi terkait protokol Covid-19. Selain itu, alat perlindungan kesehatan di pedesaan juga harus disediakan, terutama masker, juga fasilitas-fasilitas hand-sanitizer di tempat publik dan sentra-sentra produksi. Demikian juga pelarangan mudik harus dipertegas dibarengi dengan mendorong masyarakat pedesaan agar melarang anggota keluarganya untuk mudik. Protokol dan Standard Operating Procedure (SOP) perlindungan Covid-19 ini harus disiapkan terlebih dahulu dan disosialisasikan dengan baik ke masyarakat di pedesaan sebelum relaksasi aktivitas ekonomi di masa restriksi sosial (PSBB) dilakukan.

Kita juga harus optimis bahwa selama Indonesia mempertahankan produksi pertanian secara berkemajuan, maka goncangan fiskal dan krisis moneter tidak akan berdampak besar terhadap kelangsungan produksi pertanian.